Bukan Hanya Kebijakan, Kepala Perpunas Sebut Tiga Kunci Literasi Dasar Masyarakat
Bukan Hanya Kebijakan, Kepala Perpunas Sebut Tiga Kunci Literasi Dasar Masyarakat
Jakarta-Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menyampaikan bahwa kunci peningkatan literasi dasar masyarakat bukan hanya terletak pada kebijakan semata. Disebutkannya, ada tiga kunci yang dimaksud, yaitu program yang tepat, relevansi bahan bacaan, dan kolaborasi sektoral.
Hal tersebut disampaikannya pada kegiatan Gelar Wicara Literasi Nasional 2026 Sekolah Literasi Indonesia Great Edunesia dan Dompet Dhuafa Republika yang bertema “Menggerakkan Literasi, Membangun Kawasan, Memberdayakan Masyarakat”, pada Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, program kegiatan literasi yang tepat akan mendorong masyarakat untuk mulai membaca. “Tanpa budaya membaca yang kuat, peningkatan kecerdasan dan pengetahuan tidak akan tercapai,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, Perpusnas telah menyalurkan 1.000 buku ke setiap Taman Bacaan Masyarakat, setiap desa atau kelurahan. “Buku-buku tersebut kemudian dimanfaatkan melalui program Relawan Literasi Masyarakat (Relima) dan ternyata hal ini mempengaruhi tingkat kegemaran membaca anak-anak,” ujarnya. “Hal ini karena bacaan yang diberikan sesuai dengan minat anak-anak seperti komik, cerita-cerita petualangan, bahkan cerita superhero,” sambungnya.
Ia menambahkan, program Relima akan diperluas hingga melibatkan 360 relawan di berbagai kabupaten kota. Selain itu, Perpusnas juga menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi. Program ini bekerja sama dengan perguruan tinggi, di mana para mahasiswa terjun langsung ke masyarakat untuk melaksanakan kegiatan literasi.
Lebih lanjut, Aminudin menjelaskan bahwa Perpusnas menghadapi tantangan besar. Pemotongan anggaran hingga 48 persen menyebabkan distribusi bantuan buku baru untuk sementara dihentikan.
Meski demikian, fokus tetap diarahkan pada pemanfaatan buku yang sudah tersedia serta penguatan kolaborasi antar komunitas literasi. “Ada Sekolah Literasi Indonesia (SLI), Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB), forum TBM, dan berbagai program di masyarakat. Mari kita gerakan bersama-sama. Dan Relima bisa menjadi salah satu bagian dari gerakan bersama ini,” tuturnya.
Sementara itu, Dewan Pembina Dompet Dhuafa Republika, Yudi Latief, menyampaikan literasi bukan sekadar alat pengetahuan melainkan dasar ontologis dari kemanusiaan yang membuat manusia dapat mengembangkan berbagai bentuk teknologi sehingga dapat melewati batas ruang dan waktu.
“Tidak ada bangsa yang bisa melahirkan ilmu pengetahuan tinggi kalau daya literasinya rendah. Dengan literasi yang kuat, kita bisa menjelajah dimensi-dimensi pengetahuan,” tuturnya.
Ia menilai saat ini, kondisi literasi di Indonesia cenderung mengalami penurunan secara fungsional terutama di tengah meningkatnya kompleksitas tantangan kehidupan modern. Menurutnya, semakin kompleks kehidupan maka semakin tinggi pula kebutuhan terhadap penguasaan pengetahuan.
“Ini menjadi satu tantangan bagi para penggiat literasi dimana literasi tidak hanya sekadar pada kemampuan membaca dan menulis dasar, tetapi harus mampu membangun komunitas pengetahuan atau epistemic community. Menulis dan membaca adalah satu tautan integra. Tidak mungkin seseorang bisa menulis yang baik tanpa didukung bacaan yang baik pula,” paparnya.
Lebih lanjut, Yudi menekankan pentingnya pembenahan ekosistem literasi. Ia menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya milik segelintir elit semata, melainkan pengetahuan harus menjadi budaya yang tumbuh pada ekosistem keluarga, sekolah, dan masyarakat. “Dengan demikian, kita akan menjadi bangsa yang berjaya karena menguasai pengetahuan,” pungkasnya.
Sumber: Humas Perpusnas
(AL/Ed:DRS/Dok:KN).
