Ringkasan Geopark Kebumen
Ringkasan Geopark Kebumen
GEOPARK KEBUMEN
Geopark adalah Taman Bumi
Taman biasa hanya berisi bunga dan pohon untuk keindahan, Taman Bumi /Geopark) memiliki tiga elemen penting yang saling berkaitan
1. Geodiversity/Geodiversity adalah benda-benda alam yang tidak hidup. Batu-batuan, gunung, dan gua sebagai "lantai" tempat kita berpijak.
2. Biodiversity/makhuk hidup: Hewan dan tumbuhan yang tumbuh di atasnya.
3. Cultural Diversity/manusia: Budaya, sejarah dan orang-orang yang tinggal serta merawat tempat tersebut.
Pilar Utama Pengelolaan Geopark Kebumen
1. Konservasi
Menjaga dan Melindungi warisan bumi agar tidak rusak atau hilang
Contoh Larangan menambang batu di kawasan Karangsambung dan larangan merusak stalaktit di dalam Gua Jatijajar.
2. Edukasi (Belajar)
Menjadikan alam sebagai sekolah raksasa bagi siapa saja, agar masyarakat paham bahwa batu yang mereka injak punya cerita sejarah jutaan tahun.
Contoh : Adanya Kampus BRIN (LIPI) di Karangsambung sebagai pusat riset geologi nasional.
3. Ekonomi (Sejahtera)
Memanfaatkan keindahan alam untuk meningkatkan pendapatan warga lokal secara berkelanjutan.
Hubungan Ketiganya (Siklus Geopark)
Jika alam kita Jaga (Konservasi)Maka alam akan menarik orang untuk Belajar Edukasi) Dan orang yang datang belajar akan membawa Uang (Ekonomi) bagi warga sekitar Warga yang sudah sejahtera akan semakin semangat untuk Menjaga alam tersebut (Kembali ke Konservasi).
Geopark Kebumen
Geopark Kebumen dengan luas 1.160,6872 km2. mencakup 22 kecamatan dan 374 desa, 42 situs geologi, 8 situs biologi, dan 24 situs budaya.
Terbentuknya Geopark Kebumen disebabkan oleh adanya subduksi purba yang terjadi sekitar 80 juta tahun lalu antara lempeng Samudra Hindia–Australia dan lempeng Benua Eurasia. Peristiwa ini menyebabkan dasar samudra terangkat ke permukaan daratan.
Geopark Kebumen memiliki keanekaragaman batuan yang sangat lengkap. Di Karangsambung ditemukan batuan tertua di Pulau Jawa, seperti batuan beku dari lantai samudra dan vulkanik purba, salah satunya lava bantal yang menjadi ikon Geopark Kebumen. Selain itu terdapat batuan sedimen laut dalam seperti rijang merah, gamping merah, konglomerat, dan batu pasir, serta batuan metamorf seperti serpentinit, sekis mika, filit, kuarsit, dan marmer. Batuan-batuan ini berasal dari kedalaman sekitar 4.000 meter di bawah permukaan laut.
Geopark Kebumen menjadi Unesco Global Geopark
Penyematan status UNESCO Global Geopark (UGGp) pada Geopark Kebumen karena Kebumen memiliki geologi internasional, manajemen kawasan, dan keterlibatan masyarakat.
1. Memiliki "Lantai Samudra Purba" (Nilai Geologi Internasional)
Kawasan Karangsambung. Secara ilmiah salah satu tempat terbaik di dunia untuk melihat bukti tumbukan lempeng samudra dan lempeng benua, di sini terdapat batuan dari dasar samudra yang terangkat ke daratan.
UNESCO menilai situs ini sebagai warisan dunia karena menceritakan sejarah pembentukan Pulau Jawa dan pergerakan lempeng tektonik jutaan tahun yang lalu.
2. Memiliki Keunikan Fenomena Alam Karst dan Pantai
Selain batuan purba di utara, Kebumen memiliki kawasan Karst Gombong Selatan dengan sistem gua bawah tanah yang kompleks (seperti Gua Barat dan Gua Jatijajar) serta Bentang alam pesisir yang eksotis di mana tebing kapur (karst) langsung bertemu dengan Samudra Hindia (seperti di Pantai Menganti). Ini disebut sebagai fenomena Volcano-Karst.
3. Sinergi antara Geologi, Alam, dan Budaya
UNESCO menilai bagaimana manusia hidup selaras dengan alam tersebut. Kebumen dinilai berhasil menghubungkan Geologi: Batuan purba dan gua. Hayati: Keragaman flora dan fauna (seperti burung walet dan tanaman endemik) Budaya: Kearifan lokal masyarakat dalam melestarikan tradisi, seperti Batik Tanahan, anyaman pandan, dan legenda rakyat yang masih terjaga.
4. Manajemen Kawasan yang Berkelanjutan
Kabupaten Kebumen dinilai berkomitmen tinggi dalam Konservasi: Menjaga agar situs batuan tidak ditambang atau dirusak. Edukasi: Membangun fasilitas informasi dan riset (seperti Kampus BRIN di Karangsambung). Pemberdayaan Ekonomi: Melibatkan warga lokal dalam pariwisata (Geowisata) sehingga warga mendapatkan penghasilan tanpa merusak alam.
UNESCO mengakui Geopark Kebumen karena "Keajaiban alamnya langka di dunia, ilmunya bermanfaat untuk pendidikan, dan pengelolaannya menyejahterakan rakyat."
Sejarah Geopark Kebumen
- 2016 Muncul gagasan dari Pemerintah Kabupaten Kebumen untuk membentuk sebuah Geopark. Wilayah yang hendak ditetapkan adalah Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung.
- 2017 Kegiatan persiapan dalam bentuk peninjauan lapangan, rangkaian diskusi yang melibatkan berbagai pihak dengan pendampingan dari Balai Informasi dan Konservasi Kebumian (BIKK) LIPI Karangsambung.
- 2018 Geopark Karangsambung-Karangbolong mendapatkan pengakuan sebagai Geopark Nasional pada November 2018 dengan diterimanya 26 Keputusan Menteri ESDM dengan nama Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong.
- 2019 Wakil Presiden Asosiasi Jaringan Geopark Global, Profesor Emeritus Dr. Ibrahim Komoo dari Malaysia datang mengunjungi Geopark Karangsambung-Karangbolong.
- 2022 Pemerintah memutuskan mengusulkan Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong untuk menjadi UNESCO Global Geoaprk (UGGp). Namanya diubah menjadi Geopark Kebumen.
- 2023 Kunjungan Sekjen UNESCO Global Geopark, Prof. Guy Martini ke Geopark Kebumen dalam rangka memberikan masukan terkait rencana penilaian UNESCO Global Geopark.
- 2024 Validation Mission oleh UNESCO Global Geopark, menetapkan dan memberikan rekomendasi persetujuan bahwa Kebumen akan menjadi UNESCO Global Geopark.
- 2025 Penerimaan Sertifikat UNESCO Global Geopark pada tanggal 2 Juni diterima Bupati Kebumen Hj. Lilis Nuryani.
