dr. Goelarso Astrohadikoesoemo
dr. Goelarso Astrohadikoesoemo
Nama lengkapnya Goelarso Astrohadikoesoemo. Lahir di Pati pada tahun 2564 (1904). Mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) pada tahun 2578 (1918) dan Middelbare Landbouw School (MLS), serta STOVIA (Indlandsch Arts pada tahun 2589 (1929). Pernah bekerja di Centraal Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ), Jakarta kemudian pindah ke CBZ Semarang. Pada tahun 2590 (1930) ditugaskan di Wonosobo dan Kroya. Bertugas di Bulungan dan Tanjung Selor, Kalimantan Utara pada tahun 2590-2595 (1930-1935). Pada tahun 2595-2597 (1935-1937) menjadi dokter bagian Medisch Hygienische Propaganda di Karanganjar kemudian pada tahun 2597-2598 (1937-1938) menjadi dokter di Kebumen. Kemudian pada tanggal 1 Desember 2602 (1942) menjadi wakil kepala Rumah Sakit Kebumen. Pernah duduk dalam keanggotaan Adviescommisie Inheemsche Geneeskracbtige Kruiden. Sejumlah karya ilmiah yang pernah dipublikasikan al., Larven en Muskietenvangsten ini Onderafdeelingen. Boeloengan (2594/1934). Organisasi yang pernah diikutinya adalah Jong Java dan menjabat sebagai ketua. Gunzeikanbu (1944) dr Goelarso pernah menjadi Ketua Jong Java 1927 sebelum bertugas sebagai dokter. Koentjoro Poerbopranoto Ketua Jong Java terakhir (1929) menjelaskan secara ringkas sejarah dan maksud tujuan pendirian Jong Java dalam sebuah artikel berjudul, Korban Jong Java Terhadap Kepada Tanah Air Organisasi ini didirikan semula bernama Tri Koro Dharmo (Tiga Tujuan Mulia) pada tanggal 7 Maret 1915 untuk merespon pemikiran nasionalisme yang diinisiasi oleh organisasi Boedi Oetomo (1908). Sekalipun organisasi ini dibentuk untuk mempersatukan para pemuda di Indonesia namun AD/ART baru membatasi kewilayahan pada Jawa dan Madura maka keanggotaannya masih terbatas. Oleh karena itu atas desakan eksternal dan internal maka nama Tri Koro Dharmo diubah menjadi Jong Java dan membuka keanggotaan para pemuda luar Jawa. Sebagaimana dikatakan Koentjoro Poerbopranoto, “Maka oentoenglah kekoerangan ini segera dilenjapkan serta nama ‘Tri Koro Dharmo’ ditoekar dengan nama dalam bahasa Barat: JONG-JAVA. Perobahan ini, jang dilakoekan dikongrès jang pertama di Solo pada tahoen 1918, dapat memoedahkan bekerdja bersama-sama dengan saudara 2 dari tanah Pasoendan, Bali dan Lombok” Untuk merespon Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928) maka dua bulan kemudian, Pedoman Besar Jong Java membuka kongres ke- XI pada tanggal 25 - 31 Desember 1928 di Yogyakarta yang isinya adalah mempersiapkan sebuah bentuk pengorbanan besar Jong Java untuk membubarkan organisasi dan akan bergabung dalam organisasi yang baru bernama bernama In donesia Moeda. Pada tanggal 23 April 1929 dibentuk Komisi-Persediaan dalam rangka mempersiapkan pembentukan organisasi baru. Atas undangan Pedoman Besar Jong-Java berkumpulah organisasi Pemoeda Soematra, Pemoeda Indonesia dan Jong Java untuk mengadakan rapat persiapan di pavilyun Indonesisch Clubgebouw, Jakarta. hari 23 April 1929. Pertemuan menyepakati melaksanakan keputusan Kongres XI di Yogyakarta dan mempersiapkan sebuah nama baru untuk peleburan organisasi pemuda ini dengan nama Indonesia Moeda. Kongres XII, 27 Maret 1929 merupakan riwayat penghabisan bagi Jong Java dan dalam kongres ini dihasilkan sebuah keputusan sbb: Ketua pengurus besar Jong Java berturut-turut adalah: Satiman Wirjosandjojo (1915-1917), Suhardi Ariotedjo (1917-1918), Sukiman Wirjosandjojo (1918-1919), Sutopo (1919-1920), Mukhtar Atmo Supardjojo (1921-1922), Ma’amun (1923), Samsuridjal (1923-1924), Sumarto Djojodihardjo (1925), Sunardi Djaksodipuro (1926), Gularso Astrohadikusumo (1927), Sarwono Prawirohardjo (1928); dan Kuntjoro Purbopranoto (1929) Sosok bernama Dr. Goelarso yang pernah berkiprah sebagai Ketua Jong Java Tahun 1927 dan dokter yang berkarya di Karanganyar dan Kebumen sekitar tahun 1935-1945.
