Ego Sektoral Halangi Keberlangsungan Literasi
Ego Sektoral Halangi Keberlangsungan Literasi
Jakarta - Literasi sejatinya merupakan hal utama yang diperlukan untuk membentuk manusia bermartabat. Akan tetapi pada beberapa waktu ke belakang, literasi hanya menjadi proyek yang tidak pernah dikerjakan secara bersama. Tak ayal, tingkat kecakapan literasi yang dimiliki oleh masyarakat dan siswa hingga saat ini masih sangat mengkhawatirkan.
Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz mengatakan, ego sektoral yang dimiliki oleh sekitar 13 kementerian/lembaga (k/l), yang menangani permasalahan literasi, menjadi penghalang keberlangsungan pelaksanaannya di masyarakat. Setiap kementerian dan lembaga memiliki tafsirnya masing-masing sehingga diperlukan sebuah transformasi berpikir menyeluruh.
"Faktanya, urusan literasi baru sebatas pada proyek bersama, yang tidak pernah dikerjakan bersama, yang artinya ego sektoral dari masing-masing k/l masih sangat tinggi,” imbuhnya. Sehingga menurutnya, perlu ada sebuah transformasi pemikiran bahwa literasi harus dikerjakan bersama. “Perlu dibuat ekosistem yang menyeluruh melalui jalinan kerja sama, untuk bersatu dalam gerakan literasi semesta," tambahnya.
Lebih lanjut, ia pun menemukan fakta lain bahwa di lapangan ada klaim menyesatkan yang mengatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak memiliki minat baca yang baik. Kenyataannya tidak demikian, melainkan justru mengarah kepada ketiadaan sumber bahan bacaan yang relevan dengan kebutuhan mereka.
"Saya menemukan buku pelajaran di sebuah perpustakaan sekolah, padahal yang diinginkan anak-anak yang bersekolah di sana adalah buku yang menggembirakan. Kesimpulannya kita tidak memiliki bahan bacaan yang cukup untuk anak-anak maupun orang dewasa, sehingga perlu ada revolusi dalam penyediaan buku yang sesuai dengan minat baca masyarakat," lanjutnya.
Permasalahan tersebut akhirnya menemukan jalan terang usai Kepala Perpusnas dan jajarannya melakukan kunjungan kerja ke Kementerian Sosial (Kemensos). Menteri Sosial, Saifullah Yusuf menyambut baik rencana kerja sama untuk pengadaan perpustakaan di Sekolah Rakyat (SR) dan menyerahkan kendali penuh kepada Perpusnas untuk penyelenggaraan maupun pengelolaannya.
"Saya waktu itu senang sekaligus kaget karena tidak banyak yang memiliki pemikiran revolusioner seperti beliau. Dari situ saya sangat yakin Sekolah Rakyat bisa jadi contoh terbaik, bahwa mereka yang berasal dari kelompok termarjinalkan ketika dikasih gizi berupa ilmu pengetahuan yang baik, mereka bisa menjadi individu terbaik," kisahnya.
Menanggapi yang disampaikan Kepala Perpusnas, Menteri Sosial yang akrab dipanggil Gus Ipul ini menyampaikan kapasitasnya di bidang literasi yang terbatas. Hal ini menyadarkannya bahwa untuk mengelola SR diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang memadai dan memiliki konsep yang kuat, serta didukung oleh sarana dan prasarana yang cukup.
"Maka dari itu, saya ajak Kepala Perpusnas dan bidang pendidikan lainnya untuk menyukseskannya. Beliau menjadi salah satu yang saya andalkan," katanya saat membuka Pelatihan Teknis Pengelolaan Perpustakaan Tingkat Lanjut Bagi Pengelola Perpustakaan Sekolah Rakyat Batch 3 Tahun 2026, Rabu (15/4/2026).
Gus Ipul menerangkan hingga saat ini sudah mulai dibangun gedung SR permanen di lebih dari 100 titik. Berdiri di atas tanah seluas 6 hektar, ia merancang perpustakaan modern untuk menempati aula depan untuk memancing minat berkunjung siswa dan juga masyarakat.
"Perpustakaan adalah jantung literasi dan ruang tumbuh masa depan siswa Sekolah Rakyat. Saya ingin dimulai dari Sekolah Rakyat dan perpustakaan harus berada di bagian depan sebagai tempat yang istimewa," ungkapnya di hadapan 122 peserta dari 61 SR di wilayah Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
"Fungsi strategis perpustakaan ada tiga yakni sebagai alat mobilitas sosial, ruang aman, dan pusat pembentukan karakter. Sedangkan peran para pengelola di dalamnya bukan hanya sebagai penjaga buku, tetapi juga sebagai kurator pengetahuan, penggerak literasi, dan penjaga harapan bangsa," terangnya.
Di akhir kegiatan, Gus Ipul berharap para pengelola perpustakaan SR kelak mampu menciptakan ekosistem membaca dan membuat perpustakaan tidak hanya berdiri, melainkan hidup.
"Anak-anak SR datang dari latar belakang yang tidak mudah. Untuk itu, pelatihan ini harus diikuti sampai selesai karena di tangan anda, para pengelola, buku bisa menjadi nasib baru bagi seorang anak," pungkasnya.
Sumber: Humas Perpusnas
(BS/Ed:DRS/Dok:KN)
