Wiyata Kinarya, Strategi Perpusnas Cetak Pustakawan Kompeten
Wiyata Kinarya, Strategi Perpusnas Cetak Pustakawan Kompeten
Jakarta–Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Triani Rahmawati, menyampaikan Semangat Perpustakaan Hadir demi Martabat Bangsa hendaknya dimulai dengan semangat para pustakawan untuk terus meningkatkan kompetensi diri.
“Pustakawan harus menjadi pribadi yang mau terus belajar, mengembangkan kompetensi, dan adaptif dengan perkembangan sehingga mampu memberikan nilai, manfaat, dan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia,” jelasnya secara daring pada apel pagi di lingkungan Perpusnas, Senin (30/3/2026).
Menurutnya, hal ini penting dilaksanakan guna memperkuat peran Perpusnas sebagai lembaga pembina perpustakaan yang memiliki tanggung jawab strategis dalam menghasilkan pustakawan di Indonesia yang kompeten, adaptif, dan relevan dengan perkembangan kebutuhan informasi masyarakat.
Triani menjelaskan, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional telah melakukan beberapa upaya untuk mengimplementasikan pembelajaran terintegrasi dalam rangka pengembangan kompetensi ASN di lingkungan Perpusnas pada khususnya, dan pustakawan di seluruh Indonesia pada umumnya melalui pengembangan Corporate University atau Wiyata Kinarya Perpusnas.
“Wiyata Kinarya Perpusnas dibentuk dengan tujuh elemen kunci. Ketujuh elemen tersebut adalah Struktur Wiyata Kinarya Perpusnas, manajemen pengetahuan, forum pembelajaran, sistem pembelajaran, strategi pembelajaran, teknologi pembelajaran, dan integrasi sistem,” jelasnya.
Ia menambahkan ketujuh elemen telah tertuang dalam Peraturan Perpusnas Nomor 4 Tahun 2025 tentang Sistem Pembelajaran Terintegrasi untuk Pengembangan Kompetensi Pegawai ASN Perpusnas. Melalui peraturan tersebut, diatur keterlibatan setiap unsur di Perpusnas untuk mewujudkan pembelajaran terintegrasi bagi pengembangan kompetensi ASN di lingkungan Perpusnas.
“Salah satu bentuk dukungan yang mendasar adalah keterlibatan pimpinan di setiap unit kerja untuk aktif dalam Forum Pembelajaran yang akan segera dibentuk. Forum ini berfungsi sebagai wadah strategis untuk mengidentifikasi kebutuhan kompetensi, merumuskan solusi pembelajaran, serta memastikan keterkaitan antara pengembangan SDM dengan tujuan organisasi,” tuturnya.
Ia berharap Forum Pembelajaran dapat membentuk budaya belajar yang kolaboratif, terarah, dan selaras dengan kebutuhan organisasi.
Selain itu, Triani menjelaskan pengembangan kompetensi melalui Wiyata Kinarya dilakukan dengan metode dan pendekatan baru, di antaranya dengan mengembangkan kurikulum pelatihan berbasis kebutuhan organisasi, penyelenggaraan pelatihan dengan metode 10-20-70.
“Pelatihan dengan metode 10-20-70 adalah dimana 10% pembelajaran dilakukan secara formal, 20% pembelajaran dilakukan dalam bentuk pembelajaran sosial (seperti coaching, mentoring, kelompok diskusi terpumpun, dll), dan 70% pembelajaran dilakukan dalam bentuk pembelajaran berbasis pengalaman atau pembelajaran langsung di tempat kerja dalam bentuk penugasan atau penerapan langsung materi pembelajaran,” urainya.
Adapun upaya lain yang dilakukan adalah dengan penguatan platform pembelajaran digital, antara lain penggunaan Learning Management System (LMS) Eldika dalam penyelenggaraan pelatihan, serta platform pembelajaran terbuka berbentuk Massive Open Online Course (MOOC) bernama Pandawa
Humas Perpusnas.
.(AL/Ed:DRS/Dok:AIF)
