Perpusnas Terapkan Pemberdayaan Perempuan dalam Kegiatan Literasi
Perpusnas Terapkan Pemberdayaan Perempuan dalam Kegiatan Literasi
Jakarta.- Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E.Aminudin Aziz, menyampaikan dukungannya terhadap Pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan. Momen tersebut digagas oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Rabu (1/4/2026).
Aminudin menilai kegiatan ini merupakan upaya penguatan, yang mengingatkan masyarakat bahwa perempuan memiliki peran yang sangat penting. Khususnya dalam pembangunan bangsa, pemberdayaan perempuan juga telah diterapkan di lingkungan perpustakaan maupun di Perpusnas.
“Pemberdayaan perempuan bukan hal baru bagi Perpusnas dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Banyak kegiatan literasi yang melibatkan para pegiat literasi seperti Relawan Literasi Masyarakat (Relima). Pustakawan Perpusnas yang dilibatkan bahkan didominasi oleh perempuan sebanyak 378 orang. Yang perlu kita lakukan adalah memperkuat peran mereka agar kontribusinya dalam pembangunan semakin terlihat,” tuturnya.
Selain itu menurutnya, kerja sama antar Kementerian/Lembaga yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menunjukkan bahwa pekerjaan ini tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri. “Ini membuktikan pekerjaan ini tidak bisa dilakukan secara sektoral tetapi harus melalui lintas sektor,” ungkapnya.
Menko PMK, Pratikno, menyampaikan bahwa sosok perempuan inspiratif dalam keluarga adalah seorang ibu. Ia menggambarkan ibu sebagai buku yang memiliki cerita luar biasa dan mampu menginspirasi anak.
“Saya ingin menegaskan bahwa ketika kita memberdayakan perempuan, maka kita sedang mencetak ‘buku-buku’ yang luar biasa bagi anak. Anak pada dasarnya akan meniru atau ‘copy paste’ dari lingkungan terdekatnya, dan yang pertama kali mereka tiru tentu saja adalah ibunya karena ibu merupakan pendidik pertama,” tuturnya.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi menjelaskan pendidikan adalah pondasi utama pemberdayaan. Bahwa pendidikan bukan hanya sekadar akses mendapat pengetahuan melainkan juga membangun kepercayaan diri, memperluas pilihan hidup, dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan baik di tingkat individu maupun di tingkat keluarga dan sosial.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti yang menegaskan bahwa mitos subordinasi, pandangan bahwa perempuan lebih lemah daripada laki-laki harus dihapuskan dari pendidikan. Dengan demikian, perempuan mendapatkan ruang aktualisasi yang lebih luas dan dapat mengembangkan potensi sesuai dengan bakat dan minatnya yang dijamin oleh konstitusi.
Humas Perpusnas RI
(AL/Ed:DRS/Dok:ATK).
