Sejarah Kabupaten kebumen
Sejarah Kabupaten kebumen
Penetapan hari jadi Kabupaten Kebumen pada dasarnya adalah pengakuan terhadap momentum yang menjadi tonggak sejarah keberadaan Kebumen. Penetapan Hari Jadi Kebumen merupakan sarana dalam rangka menumbuhkembangkan rasa persatuan dan kesatuan, kebanggaan daerah, mendorong semangat cinta pada daerah yang menumbuhkan semangat pembangunan daerah, serta memperkuat rasa kecintaan, keterikatan batin antara masyarakat dengan pemerintah daerah.
Lebih dari itu, hari jadi merupakan momentum yang mampu membangkitkan semangat patriotik, nasionalis, menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan atas identitas dan jati diri, serta memberikan inspirasi dalam pembangunan Guna menentukan hari jadi Kabupaten Kebumen telah dilakukan penelusuran dan penelitian sejarah, serta dokumen dengan cara studi pustaka yang menelaah data sekunder berupa peraturan perundang-undangan, dokumen hukum, hasil penelitian, hasil pengkajian, serta wawancara, FGD (Focus Group Discussion), dan rapat dengar pendapat. Selain itu juga dilakukan pengkajian terhadap aspek-aspek terkait seperti kesejarahan, sosio-kultural, hasil-hasil penelitian, dan konsep-konsep yang berkaitan dengan kelahiran Kabupaten Kebumen.
Berdasarkan penelusuran penelitian, penetapan hari jadi Kebumen ditetapkan pada 21 Agustus 1629 didasarkan pada peristiwa bersejarah yang dapat dijadikan keteladanan, maka peristiwa dimana Kiai Bodronolo membantu penyediaan dan perbekalan pasukan Sultan Agung dalam menyerang Batavia merupakan suatu peristiwa penting yang bisa dijadikan sebagai teladan. Selain diyakini oleh masyarakat Kebumen sendiri, cerita mengenai peran Ki Maduseno, Nyi Pembayun (Keluarga Ki Bodronolo) termasuk Ki Bodronolo dalam membantu Sultan Agung menyerang VOC Belanda di Batavia juga diyakini kebenarannya oleh masyarakat Tapos, Depok, Jawa Barat dalam Babad Tuk Kali Sunter dan cerita tuturnya. Dalam konteks kebangsaan saat ini, apa yang dilakukan oleh Ki Bodronolo dalam membantu Sultan Agung memerangi VOC Belanda merupakan perwujudan bentuk nasionalisme. Berdasarkan penelusuran dan penelitian sejarah, dokumen dan studi komparasi dengan pendekatan yuridis normatif, maka hari jadi Kabupaten Kebumen ditetapkan tanggal 21 Agustus 1629 berkaitan dengan peran Ki Bodronolo membantu Sultan Agung dalam melakukan penyerangan terhadap Belanda di Batavia. (Sumber : Perda Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 3 Tahun 2018).
Sejarah awal mula Kebumen tidak telepas dari sejarah Mataram Islam. Mataram membawa pengaruh terhadap terbentuknya nama Kebumen yang konon berasal dari "kabumian" yang berarti sebagai tempat tinggal Kyai Bumi setelah dijadikan daerah pelarian Pangeran Bumidirja atau Pangeran Mangkubumi dari Mataram pada 26 Juni 1677, saat berkuasanya Sunan Amangkurat I. Sebelumnya, daerah ini sempat tercatat dalam peta sejarah nasional sebagai salah satu tonggak patriotik dalam penyerbuan prajurit Mataram pada zaman Sultan Agung ke benteng pertahanan Belanda di Batavia. Saat itu Kebumen masih bernama Panjer. Salah seorang cicit Pangeran Senopati yaitu Bagus Bodronolo yang dilahirkan di Desa Karanglo, Panjer, atas permintaan Ki Suwarno, utusan Mataram yang bertugas sebagai petugas pengadaan logistik, berhasil mengumpulkan bahan pangan dari rakyat di daerah ini dengan jalan membeli. Keberhasilan membuat lumbung padi yang besar artinya bagi prajurit Mataram, sebagai penghargaan Sultan Agung, Ki Suwarno kemudian diangkat menjadi Bupati Panjer, sedangkan Bagus Bodronolo ikut dikirim ke Batavia sebagai prajurit pengawal pangan. Adapun selain daripada tokoh di atas, ada seorang tokoh legendaris pula dengan nama Joko Sangrib, ia adalah putra Pangeran Puger/Pakubuwono I dari Mataram, dimana ibu Joko Sangrib masih adik ipar dari Demang Honggoyudo di Kuthawinangun. Setelah dewasa ia memiliki nama Tumenggung Honggowongso, ia bersama Pangeran Wijil dan Tumenggung Yosodipuro I berhasil memindahkan Keraton Kartosuro ke kota Surakarta sekarang ini. Pada kesempatan lain ia juga berhasil memadamkan pemberontakan yang ada di daerah Banyumas, karena jasanya kemudian oleh Keraton Surakarta ia diangkat dengan gelar Tumenggung Arungbinang I, sesuai nama wasiat pemberian ayahandanya. Dalam Babad Kebumen keluaran Patih Yogyakarta, banyak nama di daerah Kebumen adalah berkat usulannya.
Di dalam “Babad Mataram” disebutkan pula Tumenggung Arungbinang I berperan dalam perang Mataram/perang kendang/Perang Pangeran Mangkubumi, saat itu ia bertugas sebagai Panglima Prajurit Dalam di Karaton Surakarta. Peran utama Tumenggung Arungbinang I sesungguhnya adalah sebagai utusan rahasia antara Sinuhun PB II maupun PB III dengan Sri Sultan HB I (P.Mangkubumi) dan juga utusan rahasia Sinuhun PB II maupun PB III dengan P.Sambernyawa (KGPAA Mangkunegoro I). Posisi yang sangat strategis ini tentu jangan sampai ketahuan pihak Belanda. Hal ini tercatat dalam naskah-naskah yang tersimpan di Reksopustoko Mangkunegaran maupun di Sasono Pustoko Keraton Surakarta, dan juga di Museum Radyapustaka Solo. Jabatan tertinggi yang dicapai Tumenggung Arungbinang I saat itu adalah sebagai Senapati/Panglima Besar Prajurit Keraton Surakarta. Sebenarnya beliau menjadi kandidat Patih Keraton Surakarta, karena ada yang “membocorkan” kiprah beliau sebagai penghubung rahasia antara Keraton Surakarta dengan Keraton Ngayogyakarta maupun Kadipaten Mangkunegaran maka pihak Belanda amat sangat berkeberatan.
Keberadaan Wilayah Kabupaten Kebumen tidak te;pisahkannya dari penggabungan kabupaten karanganyar (Roma) tahun 1936 dan Pembubaran kabupaten Ambal tahun 1872.
KABUPATEN KARANGANYAR
1. Karanganyar tercatat dalam buku ”De Orloog Op Java van 1825 Tot 1830, 1850” oleh AWP Weitzel yaitu
penggabungan (blengketan) 2 wilayah (fusi/administratif kecil) pada zaman Sultan Pajang sekitar tahun
1543 M yaitu:
- Kadipaten Pucang wilayah di sebelah utara
- Kadipaten Kaleng wilayah pesisir selatan.
2. Nama "Roma" bertahan cukup lama hingga masa Perang Diponegoro (1825-1830).
3. Tahun 1830-1831 pemerintahan transisi oleh Bupati Raden Tumenggung Sindunegara II.
4. Pada tahun 1831 perpindahan ibukota dari Djatinegara ke Karanganyar.
5. Tahun 1831-1900, Kebumen, Karanganyar, bersama Purworejo, Kutoarjo, Ledok (Wonosobo) berada di bawah Karesidenan Bagelen.
6. Tahun 1901 Karesidenan Bagelen dihapus dan digantikan menjadi Karesidenan Kedu.
7. Karanganyar menjadi bagian dari Karesidenan Banyumas Selatan dari tahun 1928-1933.
8. Tahun 1936 Kabupaten Karanganyar digabung ke Kabupaten Kebumen dengan dasar hukum Staatblad No 629 Tahun 1935 yang ditandatangani oleh De Jonge selaku Gubernur Jendral Hindia Belanda.
KABUPATEN AMBAL
Pasca kekalahan Perang Jawa (1825-1830), khususnya sejak ditandatanganinya kontrak politik 27 September 1830, terjadi "peralihan nagara", terlepasnya daerah-daerah pesisir dari kekuasaan Mataram (Yogyakarta dan Surakarta) dan juga termasuk di dalamnya wilayah “mancanegara” dalam hal ini Bagelen. Wilayah Bagelen kemudian dijadikan Karesidenan dengan ditetapkannya Tumenggung Cokronegoro I sebagai Bupati pertama oleh Gubernur Van Den Bosch.
Ambal adalah salah satu afdeling (sebuah wilayah administratif pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda setingkat Kabupaten) dari Karesidenan Bagelen. Tahun 1831 Poerbonegoro yang kemudian ditunjuk oleh pemerintahan Belanda dan juga Kesultanan Yogyakarta untuk menjadi seorang bupati. Penunjukkan Poerbonegoro dikarenakan berhasil mengalahkan Ki Begal alias Gamawijaya yang kerap menghadang bulu bekti yang hendak dikirimkan ke kesultanan Yogyakarta maupun kesunanan Surakarta dan meredam sejumlah kekacauan.
Setelah Kabupaten Ambal dibubarkan pada tahun 1872, melebur ke dalam 3 struktur wilayah administratif :
- Kabupaten Kebumen yaitu Distrik Ambal (Pusat),Distrik Kutowinangun, dan Distrik Kebumen (Kota)
- Kabupaten Karanganyar yaitu Distrik Petanahan, Purimg dan Karangbolong
- Kabupaten Kutoarjo yaitu Distrik Grabag, Pituruh dan Butuh.
