Pentingnya Lima Dimensi Komunikasi untuk Meningkatkan Profesionalisme Pustakawan
Pentingnya Lima Dimensi Komunikasi untuk Meningkatkan Profesionalisme Pustakawan
Jakarta—Dalam rangka memperkuat profesionalisme pustakawan Indonesia, Sekretaris Utama (Sestama) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Joko Santoso, membuka acara Sertifikasi Kompetensi Pustakawan yang berlangsung pada 6-7 November 2025.
Kegiatan ini diadakan oleh Pusat Pembinaan Pustakawan Perpusnas di Gedung Perpusnas, Jakarta, dan diikuti oleh 74 asesi serta 15 asesor dari berbagai daerah di Indonesia, bertujuan untuk memastikan bahwa tenaga pustakawan memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar nasional.
Joko menjelaskan lima dimensi komunikasi yang harus dimiliki oleh seorang pustakawan. Pertama, task skill, yakni kemampuan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar. Kedua, management skill, kemampuan mengorganisasikan tugas secara efisien. Selanjutnya, crisis management skill, merupakan kemampuan menghadapi situasi tak terduga. Berikutnya, job role skill, kemampuan berinteraksi secara profesional dalam pekerjaan. Terakhir, transfer skill, adalah kemampuan menerapkan kompetensi dalam berbagai situasi.
Pada kesempatan tersebut, ia juga menekankan pentingnya sertifikasi sebagai upaya meningkatkan kualitas dan profesionalitas pustakawan, serta mendukung implementasi Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Sertifikasi kompetensi ini juga sejalan dengan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2004 yang mengharuskan tenaga kerja memiliki sertifikasi sebagai pengakuan atas kemampuan mereka dalam menjalankan tugas dan fungsi profesinya.
"Sertifikasi Kompetensi Pustakawan adalah langkah nyata untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme pustakawan di Indonesia. Melalui proses ini, kami ingin memastikan bahwa pustakawan tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga pemahaman yang lebih dalam terhadap dimensi komunikasi yang penting dalam pekerjaan mereka," ujarnya.
Lebih lanjut, Joko menekankan bahwa sertifikasi bukan hanya tentang memperoleh pengakuan formal, tetapi juga sebagai kesempatan untuk merefleksikan dan mengevaluasi diri, serta memastikan bahwa pustakawan di Indonesia memiliki daya saing yang tinggi dalam menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi.
"Kompetensi pustakawan yang tersertifikasi akan memberikan jaminan bahwa kita memiliki kemampuan yang terstandar, adaptif, dan siap bersaing di dunia kerja yang semakin kompetitif," lanjutnya pada Kamis (6/11/2025).
Kegiatan sertifikasi tersebut juga mencatatkan pencapaian signifikan, dengan 6.106 pustakawan telah tersertifikasi melalui lembaga sertifikasi yang terakreditasi, dan 5.105 asesi di antaranya dinyatakan kompeten, meskipun angka ini masih mencakup 23% dari total pustakawan yang ada, yaitu 22.125 pustakawan. Menurutnya, ini menunjukkan adanya ruang yang luas untuk melibatkan lebih banyak pustakawan dalam program sertifikasi di masa depan.
Selama acara berlangsung, Joko juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh asesi, asesor, dan panitia yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya acara ini. Ia berharap kegiatan ini dapat terus memperkuat posisi pustakawan sebagai agen perubahan dan literasi yang relevan di era digital yang penuh tantangan.
"Semoga para pustakawan yang tersertifikasi dapat terus beradaptasi dengan perkembangan zaman dan memberikan kontribusi positif untuk masyarakat," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pembinaan Pustakawan, Agus Sutoyo, mengapresiasi para peserta yang hadir dari berbagai daerah ke Perpusnas, termasuk dari Tapanuli Selatan dan Kebumen. Sertifikasi ini telah dilaksanakan di 8 daerah di Indonesia, termasuk Jakarta, sebagai bagian dari program pengembangan kompetensi berkelanjutan yang diinisiasi oleh Perpusnas, bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pustakawan Indonesia.
Reporter: Alditta Khoirun Nisa
Dokumentasi: Aditya Irfan Fakhruddin
