Perpusnas Tekankan Peran Strategis Perpustakaan dalam Pendidikan Tinggi
Perpusnas Tekankan Peran Strategis Perpustakaan dalam Pendidikan Tinggi
Jakarta – Humas Perpusnas. Perpustakaan perguruan tinggi perlu bertransformasi agar tidak hanya berfungsi sebagai pusat penyimpanan pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, kreativitas, dan pengembangan kompetensi masyarakat akademik. Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Adin Bondar, dalam sambutannya pada kegiatan Re-akreditasi Perpustakaan Universitas Sangga Buana secara daring, Jumat (12/6/2026).
Adin mengapresiasi komitmen Universitas Sangga Buana melakukan re-akreditasi, guna memperkuat tata kelola perpustakaan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan budaya literasi di lingkungan kampus. Menurutnya, perpustakaan memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat berbasis pengetahuan yang menjadi pondasi penting bagi kemajuan bangsa.
“Perpusnas saat ini membangun transformasi pendekatan baru terhadap peranan perpustakaan. Visi kami adalah Perpustakaan Hadir Demi Martabat Bangsa,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa perpustakaan tidak lagi sekadar berfungsi sebagai depositori pengetahuan, melainkan ruang terbuka bagi sivitas akademika untuk belajar kontekstual, berbagi pengalaman, dan meningkatkan keterampilan hidup.
Lebih lanjut, Adin menyoroti instrumen akreditasi baru yang kini berbasis kinerja dengan empat komponen utama, meliputi implementasi nyata layanan, keberlanjutan program, dampak terhadap komunitas akademik, serta relevansi dengan transformasi digital. Ia juga menekankan pentingnya peran perpustakaan dalam menghadapi fenomena post-truth dan disrupsi pasar kerja, di mana literasi menjadi kunci produktivitas dan penciptaan simpul-simpul ekonomi baru.
Ia memaparkan pula, hingga tahun 2026 Perpusnas telah mengembangkan 20 ribu ruang baca di berbagai daerah. Upaya tersebut juga diperkuat dengan penyediaan akses digital melalui platform iPusnas, pusnas.edu, dan e-resources.
Selain itu, kerja sama dengan perguruan tinggi diperluas melalui program KKN Tematik Literasi, yang melibatkan mahasiswa dalam pengelolaan perpustakaan desa serta aktivitas literasi masyarakat. Program ini diharapkan mampu menghidupkan ruang baca di desa dan menumbuhkan budaya gemar membaca.
“Mahasiswa kita dorong mereka melakukan pengabdian mengelola perpustakaan, melakukan aktivitas-aktivitas literasi di desa, yang mana ruang-ruang baca yang kita bangun di desa itu nanti akan lebih bergairah lagi dengan melibatkan orang tua anak-anak kita kita semua, agar supaya mereka memiliki satu keinginan kuat untuk gemar membaca,” ungkapnya.
Menutup sambutannya, Adin berharap proses re-akreditasi tidak hanya berhenti pada penilaian, tetapi juga diikuti dengan pendampingan nyata. Untuk memperkuat fungsi perpustakaan agar berfungsi optimal, sehingga hasil re-akreditasi dapat memberikan kontribusi terbaik bagi peningkatan mutu pendidikan tinggi di Indonesia.
Humas Perpusnas
