Buku Audio, Inovasi Inklusif Layanan Perpustakaan
Buku Audio, Inovasi Inklusif Layanan Perpustakaan
Jakarta-Transformasi digital telah menghadirkan berbagai inovasi dalam layanan perpustakaan, salah satunya adalah buku audio (audiobook) sebagai bentuk pustaka modern yang semakin diminati masyarakat. Memanfaatkan momen jelang hari ulang tahun ke 46, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menggelar Webinar Berbagi Pengetahuan (Betah) dengan tema ‘Buku Audio: Tren Pustaka Digital’, Rabu (6/5/2026).
Buku audio memberikan kemudahan akses literasi bagi berbagai kalangan, termasuk penyandang disabilitas netra, lansia, serta masyarakat dengan mobilitas tinggi. Demikian disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Biro Hukum, Organisasi, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat (HOKH) Perpusnas, Budi Kusuma Wardani saat memberikan pengantar.
“Oleh karena itu, pengembangan dan pemanfaatan buku audio menjadi bagian penting dalam mendukung peningkatan literasi nasional yang inklusif dan berkelanjutan,” tuturnya. Budi juga memastikan bahwa Perpusnas terus berkomitmen untuk menjadi pusat pengetahuan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dalam pemaparannya, Pustakawan Ahli Muda Perpusnas, Muhammad Ansyari Tantawi Nasution menyampaikan bahwa sejatinya keberadaan buku audio memiliki dua sisi yang berbeda namun saling berdampingan, recto dan verso.
“Filosofis recto-verso buku bersuara yaitu recto merupakan sisi terdepan yang menunjukkan kemajuan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat informasi,” ujarnya. “Sedangkan verso adalah sisi fundamental yang menunjukkan sisi humanis berupa inklusivitas dan aksesibilitas, serta teknis atas produk ini,” sambungnya.
Lebih lanjut, Tantawi menerangkan tentang empat hal fundamental dari buku audio. Ia menjabarkan, humanisme dan hal mendapatkan informasi; jiwa manusia dan perkembangan teknologi; standar dan teknis dalam membuat buku bersuara; serta etika dan perlindungan hak cipta.
“Semakin berkembangnya teknologi, inovasi harus semakin memanusiakan manusianya. Kalau teknologi menyusahkan manusia, berarti teknologinya yang harus dievaluasi bukan manusianya,” ungkapnya.
Pranata Humas Ahli Madya, Dyah Rachmawati Sugiyanto sebagai narasumber kedua membeberkan teknik yang bisa digunakan untuk menghidupkan cerita di buku audio. “Buku audio bukan tentang suara bagus, tapi tentang cerita yang hidup di dalam suara,” ucapnya.
Ketika merekam proses pembacaan buku audio, diperlukan teknik storytelling dengan memperhatikan aspek-aspek seperti intonasi (naik-turun suara), tempo (kecepatan bicara), jeda, artikulasi (kejelasan pengucapan), dan ekspresi (rasa dalam suara).
“Selain aspek-aspek teknik storytelling, yang wajib diperhatikan selanjutnya agar buku audio nyaman didengar adalah kualitas suara jernih dengan minim noise, volume yang stabil, dan editing sederhana,” pungkasnya.
Sumber: Humas Perpusnas
