Keberhasilan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Berdampak pada Prestasi Akademik Hingga Peluang Kerja
Keberhasilan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Berdampak pada Prestasi Akademik Hingga Peluang Kerja
Jakarta, Humas Perpusnas— Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Adin Bondar menyatakan, pendekatan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial (TPBIS) telah diterapkan, di mana perpustakaan diposisikan sebagai ruang membaca, ruang aktivitas literasi, serta ruang pengembangan keterampilan hidup. TPBIS juga mendukung perpustakaan dimanfaatkan sebagai ruang berbagi pengalaman dan pembelajaran kontekstual.
Menurut Adin, produk-produk baru maupun lokal telah dihasilkan secara nyata sebagai bukti keberhasilan program. “Dampak yang diberikan itu sangat positif. Data kami menunjukkan 85,5% melaporkan peningkatan prestasi akademik, 91% meningkatkan keterampilan, dan 70,2% mendapatkan peluang kerja setelah adanya praktik-praktik baik di sana,” rincinya, Kamis (12/3/2026).
“Perpustakaan ataupun layanan perpustakaan itu menjadi hak masyarakat. Setiap orang berhak untuk memperoleh layanan, memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan. Baik mereka yang di daerah terpencil, terisolir, atau terbelakang karena akibat faktor geografis dan juga mereka yang memiliki kebutuhan khusus, baik masyarakat yang kekurangan fisik, emosional, mental, intelektual juga semuanya berhak untuk mendapatkan layanan perpustakaan.” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Adin menyampaikan bahwa membaca merupakan bagian dari proses penting. Menurutnya, membaca membawa pengetahuan dan pemahaman yang akan menghasilkan kemampuan untuk berpikir kritis dan mencipta.
“Informasi adalah data, Informasi memiliki makna - arti, yang kemudian informasi itu diserap dan menjadi pengetahuan atau knowledge.” ungkapnya dalam kegiatan Sosialisasi Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) Tahun 2026.
Adin juga menyampaikan bahwa perpustakaan tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat menyimpan buku, tetapi harus hadir sebagai ruang belajar masyarakat, ruang berbagi pengetahuan, sekaligus pusat pemberdayaan.
Dalam kesempatan tersebut, Adin menekankan bahwa literasi bukan hanya sekadar kemampuan membaca, tetapi juga proses memaknai informasi secara kritis. Dari data yang diolah menjadi informasi, kemudian diserap sebagai pengetahuan, masyarakat diharapkan mampu membangun keterampilan berpikir aras tinggi, mulai dari mengenali, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesakan, hingga menilai.
“Perpustakaan harus menjadi ruang belajar masyarakat, ruang berbagi pengetahuan, sekaligus pusat pemberdayaan. Dengan begitu, perpustakaan benar-benar hadir sebagai motor penggerak peningkatan literasi dan kualitas hidup,” jelasnya.
Menutup paparannya, Adin mengingatkan bahwa misi utama TPBIS adalah menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar yang inklusif dan adaptif, sekaligus mendorong kreativitas, inovasi, serta keberdayaan masyarakat. Ia menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada Perpusnas, tetapi juga pada kolaborasi aktif pemerintah daerah, perangkat desa, komunitas, dan relawan literasi. (FM/Ed:DRS/Dok:FM)
